Senin, 27 Januari 2014

Sejarah Desa Sagarahiang


SEJARAH DESA SAGARAHIANG
            Untuk  menggali sejarah dan melakukan penelitian mengenai perkembangan sejarah dan kebudayaan di desa Sagarahiang saya melakukan observasi secara bertanya atau mewancarai secara langsung kepada narasumber-narasumber baik itu dari aparat desa, sesepuh atau masayarakat  desa Sagarahiang yang di anggap lebih mengetahui mengenai sejarah dan kebudayaan di Desa Sagarahiang dan dari beberapa sumber-sumber lainya sehingga saya memperoleh beberapa informasi mengenai sejarah dan pekembangan kebudayaan di Desa Sagarahing  
A.     Sejarah desa sagarahiang
Kali ini saya akan membahas tentang sejarah desa sagarahiang. Setiap desa tentunya tidak akan pernah luput dari apayang namanya sejarah, begitu pula dengan desa sagarahiang maka dati itu saya berusaha untuk menggali sejarah desa sagarahiang ini dengan mewawanaearai  orang tua yang bersangkutan dengan dengan sejarah desa sagarahiang. Desa sagarahiang terletak di lereng gunung ciremai tepatnya di Kec Darma Kab Kuningan Jawa Barat.
            Dari informasi yang saya dapat dari sesepuh desa sagarahiang timbul berbagai asumsi-asumsi yang berbeda namun ada pula asumsi yang sama. Nah dari informasi yang saya dapat dari sesepuh desa sagarahiang ini  saya  akan sedikit menceritakan tentang asal usul desa sagarahiang
            Sagarahiag berasal dari dua kata yaitu sagara dan hiang. sagara artinya Laut dan Hiang artinya kesiangan. jadi sagarahiang adalah laut / sagara yang kesiangan. dimana konon zaman dulu di sagarahiang itu akan dibuat semacam Waduk akan tetapi pembuatannya tidak selesai dengan batas waktu yang ditentukan, yang seharusnya mesti selesai sebelum siang. gagal karena ada sesuatu yang terjadi dan konon katanya pada saat pembuatan waduk tersebut terjadi sebut dikarnakan Nyi Hencet sabau tidak menyeujui di buatnya sbuah waduk atau bendungan yang akn membendung sungai Cibuluh nah Nyi Hencet sabau ersebut adalah nama seorang wanita yang konon yang konon memegang kekuasaan di sungai cibuluh tersebut, nama Nyi hencetmeru sabau tersebut di ambil dari sebuah tempat di di sekitar sungi Cibuluh yang berbentuk menyerupai kelamin perempuan  nah hencet dalam bahasa sunda memiliki arti sebagai jenis kelamin wanita.
Di desa sagarahiang juga redapat sebuah situs yang merupakan bukti peninggalan sejarah berupa  berupa arca dan sandi atau formasi batu batuan.  Beberapa batu lingga mini, lingga yoni dan batu yang dibentuk menyerupai binatang menjadi bukti dan pelengkap situs ini.yang di duga pada jaman dahulu dugunakan  sebagai tempat pemujaan untuk mengabdi kepada leluhur. Dari informasi yang saya dapat  di Desa Sagaahiang  pernah berdiri sebuah kerajan kerajaan tersebut yaitu keraaan  saunggalah kuningan yang merupakan kerajaan cikal bakal kerajaan kuningan  Kerajaan Saungalah/Saunggaluh didirikan sang Maharesi Demunawan atau Prabu Seuweukarma Rahyang tangkuku. Sang Demunawan adalah cucu dari Prabu Kreti Kandayun pendiri kerajaan Galuh. Sang Demunawan adalah tokoh agung yang sangat religius sehingga mendapat gelar MAHARESI DIRAJA. 
Sagarahiang menurut informasi yang saya dapatkan dari pengurus desa dan masarakat yag dianggap  lebih mengetahui tentang sejarah desa sagarahiang. Sagarahiang di perkrakan hingga saat ini kurang lebih berusia sekitar 641 tahun. Kepengurusan desa Sagarahiang yag pertama konon menurut apart desa sagarahiang kepla desa sagarahiang di pimpin oleh Bpk Bewu dan konon Bapak Bewu memiliki garis keturunan dengan sang Maharesi Demunawan atau Prabu Seuweukarma Rahyang tangkuku.
Di bawah ini ada beberapa nama-nama yang pernah memimpin di Desa Sagarhiang  yang dapat diketahui  dari mulai pertama hingga sekarang:
1.Bpk.Bewu
2.Bpk.Aminta disaster
3.Bpk.Warga Santana
4.Bpk.Abdul manap
5.Bpk.Aksum
6.Bpk.Husen firdaus
7.Bpk.Afandi
8.Bpk.Saprudin
9.Bpk.nana awalilhana

di desa sagarahiang terdapat beberapa dusun  yaitu:
1.Manis
2.Pahing
3.Wage
4.Kliwon
5.Puhun
6.Ciliwon
7.Jambu
Masing masing dusun di pimpin oleh kepala dusun yang lebih akarab degan sebutan lurah  Posisi desa sagaahiang tepatnya berada di wilayah bagian barat kabupaten Kuningan dengan jarak 8 Km dari kota kabupaten. Sagarahiang termasuk ke wilayah kecamatan Darma dengan jarak 2 km mengarah ke utara  berbatasan langsung dengan wilayah kecamatan kadugede dan kesebelah utara berbatasan dengan kecamatan Cigugur.  Desa Sagarahiang terletak di kaki gunung Ciremai seperti kota kabupatennya, yang posisinya berada diantara perbukitan. Tepatnya berada diantara perbuitan sehingga membuat suhu udaranya lebih dingin/sejukar dan masih jauh dari polusi jika dibandingkan dengan suhu di kota kuningan.  Perbatasan  desa sagarahiang  ruang  lingkupnya  antara lain; Di sebelah timur berbatasan  dengan  desa Cisukadana, disebelah tenggara dengan desa Ciherang, di sebelah selatan dengan desa Karangsari , sebelah barat daya dengan desa Gununsirah, sebelah utara dengan desa Puncak
B.     Sistem Pemerintahan Desa sagarahiang
      Menurut tokoh masyarakat yang saya wawancarai, pemerintahan Desa dari sagarhiang dulu dipimpin oleh seorang yang disebut sebagai Kepala Desa, namun warga dikampung saya lebih familiar dengan sebutan Kuwu.
      Kepala Desa atau Kuwu dipilih oleh masyarakat dengan cara pemilihan umum, seperti halnya pemilihan calon Bupati, calon Gubernur ataupun pemilihan calon Presiden dan Wakil Presiden. Masa jabarannya pun sama yakni selama lima tahun, Kepala Desa yang telah habis masa jabatannya selama lima tahun boleh mencalonkan kembali sebagai calon Kepala Desa untuk periode kedua. Namun setelah periode kedua berakhir, tidak bisa mencalonkan lagi karena hanya diberi kesempatan dua periode tujuannya untuk member kesempatan kepada masyarakat yang lain. Dusun dusun di desa sagarahiang dipimpin oleh kepala dusun yag lebih pamiliar dengan seutan lurah.
C.      Keadaan Sosial Ekonomi Masyarakat Desa hiangsagara
            Mayoritas mata pencaharian penduduk Desa Sagarahiang adalah sebagai petani dan buruh tani. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu pertama karena sudah turun temurun sejak dahulu masyarakat desa Sagarahiang bermatapencaharian sebagai petani. Kedua, karena minimnya tingkat pendidikan masyarakat sehingga masyarakat tidak memiliki keahlian lain dan tidak punya pilihan lain selain menjadi petani ataupun buruh tani. Ke tiga masarakat desa sagarahiang bermatapencaharian sebagai perantau dikota kota besar seperti Jakata, Bandung, dan Yogyakarta untuk berdagang atau bahkan mnjadi buruh dikarnakan minimnya pendidikan masyarakat sehingga tidak mmiliki keahlian.
            Di Desa Sagarahiang ada dua macam petani, yaitu petani asli dan petani garap. Petani asli yaitu petani yang memiliki sawah sendiri dan menggarap sawah tersebut dikerjakan oleh sendiri, tidak dikerjakan oleh orang lain. Sedangkan untuk petani garap, yaitu petani yang menggarap sawah milik orang lain atau bukan milik sendiri. Hal ini terjadi karena orang yang mempunyai sawah tidak begitu mahir atau mereka merasasudah lebih cukup  dalam menggarap sawah ataupun karena memiliki pekerjaan lain sehingga tidak ada waktu untuk menggarap sawah. Pemilik sawah tersebut mencari orang yang dirasa cukup mahir dalam menggarap menggarap sawahnya agar hasil panennya lebih baik dan agar sawah miliknya tidak terbengkalai karena tidak ada yang menggarap.
            sebagian besar masarakatnya bermata pencaharian sebagai petani sayuran. Uadara di sagarahiang sangat dingin, dan tanah disagarahiang sangat subur sehinga masarakat memangpaatkanya dengan menanam sayuran.syuar-sayuran dari desa saghiang merupakan sayuran terbaik sayuran dari desa sagarahiang tidak hanya di pasarkan di pasar daerah saja, tapi sayur sayuran dari desa sagarahiang juga mampu bersaing di pasar pasar di kota-kota besar seperti Jakarta. Syuran yang di hasikan dari sagarahang diantaranya; kubis,tomat,jahe, pecay,kentang,wortel,jagung,bawang daun, dan lainya.jenis sayuran yng sangat di paporitkan dan di andalkan oleh orang-orang sagarahiang adalah bawang daun. Di desa sagarahiang juga selain menanam sayuan masarakat sagaahiang juga menanam padi meski padi bukan tanaman yang di utamakan di desa sagarahiang. Masarakat desa sagarahiang menanam padi dalam satu tahun hanya satu kalisaja itu saja itu pun di tanam di sawah sawah tertentu saja yang di anggap kurang baik untuk di tanami sayuran.          
            Pada tahun1970-an, para petani menggarap sawahnya dengan ditanami padi, ubi, singkong, gandum, dan jagung. Keadaan pertanian di Desa Sagarahiang sangat mengandalkan hujan (tanah hujan), sehingga jika pada masa penghujan sawah mereka ditanami sayuran atau padi, sedangkan jika memasuki masa kemarau sawah mereka ditanami jagung.
            Dalam menggarap sawahnya, petani masih menggunakan alat-alat tradisional dalam menggarap sawah mereka, seperti alat untuk membajak sawah masih menggunakan tenaga hewan seperti kerbau ataupun sapi. Untuk pupuk masyarakat masih menggunakan pupuk putrmenyuburkan tanah dan tanaman mereka. Pupuk kandang ini sangat sederhana, sehingga perkembangan tanaman terbilang lambat. Hal ini sangat mempengaruhi penghasilan para petani. Irigasi di desa sagarahiang masih bagus, karena sistem irigasi yang baik mamun masarkt belum memanpaatkanya dengan maksial  sehingga sehingga hasil pertnian petani kurang maksimal. Namun masarakat bebelum maksimal dalam memangpaakan sawah mereka dengan maksimal dikarnakan kurangna penetahuan.
            Dengan pemangpaatan yang kurang maksimal mengakibatkan hasil tani mereka tidak dapat maksimal karena masih terbatas dalam penggarapannya. Hasil yang mereka dapat hanya cukup untuk menggarap kembali sawah mereka dan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, bahkan jika petani yang hanya memiliki tanah sawah yang tidak begitu luas, hasil yang didapat terkadang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari karena mereka juga harus mengeluarkan biaya untuk menggarap sawah mereka selanjutnya. Untuk memenuhi kebutuhan mereka, tidak jarang mereka bekerja sebagai buruh tani ataupun buruh bangunan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
            Masarakat desa sagarahiang juga mangpaatkan kondisi alam yang meniliki poten si untuk lahan pertanian masarakat dsa sagarahiang menanam tanaman sejenis buah buahan yaitu buah kesemek yang lebh akarab dengan sebutan apael ganjen dikarnakan buah itu  di peram dengan menggunakan kapur sehinga buah itu putih eperti di llumuri bedak/kapur bekas pemeraman yang menempel desasagarahiang juga meiliki poensi untuk di jadikan sebuah agro wisata, karna desa sagarahiang selain udara nya yang sejuk dan jauh dari polusi sagarahiag juga memiliki siu yang memiliki nilai sejarah yag sangat besar.
            Pada sekitar tahun 1990 di desa sagarahiang perhutanni mnaakan pembaharan hutan dan masarakt desaa sagarahiang memanpaatkanya dengan mengarap lhan perhutani tersebut dengan mennami sayuran messki pda saat itu ahanya beberapa gelintir oran saja yang sudah paham dalam penanaman sayuran seprti kentang, lol, dan bawang daun saja sedangkan sisanya hanya menanam tanamn seperti kacang- kangan saja atau bahkan jagung namun itu ternyaata awaldari tumbuhnya perekonomian di desa sagarahiang, dan seidanya  dapat mengurangi pengangguran di desa sagarahiang.
            Pertumbuhan perekonoian di desa sagarahiag pada masa itu hanya tidak berlangsung lama dikaranakan terjadi keriss moneter sehingga masakat desa sagarahiang kembalai kesulitan menangani masalah perekonomian. Tak sedikit masarakat  desa sagarahiang yang diperantowan mengalami kebangkerutan  angka pengagguran kembali bertambah karna tak bisa terbendungkan.
            Pada awal tahun 2000-an masarakat desa sagaahiang terpaksa melakukan penjarahan hutan karena menurut masarakat desa sagarahiang tidak memiiki jalan lain untuk mengatasi kerisis ekonomi dan pengangguan di desa sagarahiang meski itu melangar huum atau aturan. Semenjak itu perekonomian masarakat desa sagarahiang kemblai tumbuh dan seiring tumbuhnya perekonomian masarakat desa sagarahing masarakat desa sagarahiang juga mulai mengenal teknologi.
            Desa sagarahiang  mulai tersentuh dengan adanya kemajuan teknologi, tidak terkecuali kemajuan teknologi dalam bidang pertanian. Sekarang petani sudah banyak menggunakan teknologi dalam menggarap sawah mereka dan mulai meninggalkan alat-alat tradisional, seperti alat untuk membajak sawah yang dulunya menggunakan tanaga hewan sekarang sudah menggunakan tenaga mesin (traktor). Dengan menggunakan traktor pekerjaan membajak sawah jauh lebih efisien dan cepat. Selain itu, dalam penggunaan pupuk yang dulu masyarakat menggunakan pupuk kandang atau kompos sebagai pupuk andalan, sekarang sudah banyak yang menggunakan pupuk kimia dari pabrik. Dengan menggunakan pupuk kimia ini pertumbuhan tanaman padi jadi lebih baik, sehat, dan cepat. Selain itu, juga ditambah dengan adanya sistem irigasi yang jauh lebih baik sehingga para petani dapat lebih mudah menggunakan air. Sehingga ketika musim kemarau tiba, petani masih bisa menggarap sawah mereka walaupun debit air tidak sebanyak pada musim hujan.
            Dengan masuknya teknologi pertanian di Desa Sagaahiang memberi keuntungan tersendiri bagi para petani terutama dari hasil sawah-sawah mereka jauh lebih maksimal. Penghasilan masyarakat sagarahiang mulai meningkat. Kini hasil dari mereka bertani cukup untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, bahkan mereka bisa menyekolahkan anak-anak mereka.
            Seiring berkembangnya teknologi dan perekonomian  di desa sagarahiang sagarahiang juga mulai di pedulikan oleh pemerintah akses transportasi jalan dan pendidikan di desa sagarahiang juga mulai meningkat seiring dengan kesadaran  masarkakat dsa sagarahiang yang mulai sadar akan pentingnya pendidikan. masarakat dsa sagarahiang  mulai menyekolahkan anaka anak meka kejejnang SMP,SMA bahkan Perguruan tinggi yang sebelumnya hanya masarakat yang di anggap masarakat yang dihormati atau yang memiliki kecukupan harta untuk menyekolahkan anak anak mereka.
            Perhatian pemerintah terhadap pendidikan sangat berpengaruh atas perkembangan pendidikn di desa sagarahiang yang sebelumnya sangat minim. Terjadi  peningkatan yang cukup derastis. pemerintah juga membangun sebuah SMP di desa sagarahiang pada tahun 2004 selain itu juga pemerintah mengdakan wajib belajar 9 tahun sehingga semakain mendudung masarakat untuk menyekolahakan anak anaknya.
            Kesadaran masyarakat akan pendidikan tentu didi didukung dengan pertumbuhan ekonomi dalam masarkat tersebut karan pertumbuhan pendidikan meningkat tentu karna didukun faktor ekonomi yang semakin meningkat pula, keadaan sosial ekonomi masyarakat Sagarahiyang  semakin tumbuh dan berkembang.
            Sedangkan pekerja buruh yang ada di Desa Sagarahiang  sebagian besar menjadi buruh tani dan perantouwan. Buruh tani sendiri bekerja membantu petani dalam mengerjakan sawah mereka, biasanya tenaga mereka dibutuhkan untuk mencangkuli sawah atau membersihkan tanaman petani yang membutuhkan jasa nya untuk membersihkan tanamannya dari tanaman-tanaman pengganggu. Masa kerja buruh tani tidak menentu, mereka bekerja jika ada yang membutuhkan tenaga mereka. Jika pekerjaan mereka sudah selesai, mereka akan dibayar dan selanjutnya mereka menganggur sampai ada yang menyuruh mereka untuk bekerja kembali.
            Untuk perantou sendiri keadaan ekonomi mereka nanpak sedikit berbeda di bandingkan dengan buruh tani di kampong. Masayarakad desa Sagarahiang yang merantau ini mereka bekerja di kota kota besar dengan berdagang, karyawan, dan sebagai penjual jasa lainya karna anggapan masarakat desa sagarahiang baha dengan merantau akan lebih mudah mendapatkan pekerjaan.
            Mungkin karna anggapan tersebut masaakat tergiur dengan upah kerja di kota besar dan masarakat berpikir untuk meninggalakan pekerjaan yang sebelumnya dikarnakan kebutuhan sehari –hari semakin meningkat, semntara upah yang mereka terima di desa sangat rendah sehingga penduduk desa sagarahiang banayak yang melakukan urbanisasi ke kota kota besar utuk mencai pekerjan yang lebih baik.
            Harapan masarakat desa sagarahiang dengan bekerja di kota besar mereka mendapat upah yang besar dan bisa mencukupi kebutuhan mereka. Semua ini tntu karna didorong dengan mulai berkembangnya pendidikan di dalam masyarakat. Mereka yang telah lulus sekolah walaupun itu cuma SMP ataupun SMA merasa punya bekal cukup untuk bekerja di kota. Sekarang tidak sedikit dari mereka yang bekerja menjadi buruh di kota, keadaan ekonominya jauh lebih baik dan bisa mengangkat derajat hidup mereka di masyarakat dan juga menyekolahkan anak-anak mereka ke jenjang yang lebih tinggi.
D.     Keadaan Agama dan Budaya Masyarakat Desa Sagarahiang
            Secara keseluruhan masyarakat Sagrahiang beragama Islam. Untuk menunjang kegiatan keagamaan, sejumlah masjid dan mushola berdiri di setiap dusun sebagai tempat ibadah umat Islam. Kegiatan  yang dilakukan masyarakat desa sagarahiang bersifat kegiatan rutin. Kegiatan rutin yang dilakukan adalah perayaan Maulid Nabi, Tadarus Al Quran pada bulan Ramadhan, ulang tahin desa/babarit, dan halal bihalal, yasinan, keliwonan, tujuh bulanan, tahlilan, dan masih banyak yang lainnya. Di  sini kegiatan yang rutin di laksanakan yaitu acaa babarit atau ulang tahuan desa yang merupakan acara yang sudah diwariskn secara turuntemurun dari leluhur desa sagarahiangdi dalam perayaan acara ini banyak susunan acara yang ada di daamnya, antara lain sebagai berikut;
1.      penembelihan kambing kendit yang biasanya di adakan pada awal acara itu di mulai
2.      adanaya pemasangan tali injuk di setiap perbarasan perbatasan desa sagarahiang
3.      adanya upcara adat yang di dalamnya ada persembahan tujuh tembang kakawihan yang di tembangkan oleh rongeng jaipongan dan masih banyak kegiatan –kegiatan yang biasa dilakukan dalam acara babarit ini. Dan  konon upacara-upacara ini di selengarakan sebagai bukti penghormatan pada leluhur pendahulu yang membngun desa sagarahiang.
4.      Sebelumnya sebelum acara acara diatas masarakat juga suk mengadakan penga umum, yaitu dengan mendatangkan seorang kiai untuk berceramah. Sedangkan pengajian ini di tujukan sebagai bukti penghormatan, untuk mengenang dan mendoakan arah pendahulu yang telah membangun desa sagarahiang.



Meskipun kegiatan khaul ini belum lama berjalan namun antusiasme masyarakat desa Saarahiang  sangat tinggi. Terbukti dengan banyaknya masyarakat yang datang menghadiri babarit ini dan seluruh biaya untuk kegiatan ini bersumber dari hasil swadaya masyarakat Sagarahiang itu sendiri. Halal bihalal sendiri dilakukan oleh masyarakat Sagaahiang dengan mengadakan halal bihalal setiap satu tahun sekali setelah Bulan Ramadhan berakhir atau pada Hari Raya Idul Fitri. Mereka mengadakan Halal bihalal dengan tujuan untuk lebih mengeratkan tali silaturahmi di antara masyarakat dan demi syiarnya agama Islam. Setiap kaum masjid atau mushola sangat antusias untuk mengadakan pengajian Halal bihalal tersebut meskipun harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Biaya untuk mengadakan Halal bihalal diperoleh dari swadaya masyarakat atau kaum masjid/mushola tersebut. Kegiatan ini sudah mengakar dan menjadi tradisi masyarakat Sagrahiang sehingga terus berjalan setiap tahunnya. Adapun kegiatan rutin yang dilakukan adalah pengajian rutin setiap minggu yang dilakukan secara bergiliran oleh masyarakat di setiap dusun yang ada di Desa Sagarahiang. Hal ini dapat dilihat pada cara pengelolaan tanah, pengambilan hasil hutan, dan acara-acara ritual yang bersifat tradisional.
            Pengelolaan tanah di Desa Sagarahiang sejak dulu sampai dibukanya jalur komunikasi dengan wilayah luar masih menggunakan alat yang sederhana. Pengelolaan tanah masih sering dihubungkan dengan hal-hal irrasional, misalnya, dalam kegiatan saat mau menanam tanaman peranian. Dalam kegiatan penanaman pertanan masyarakat Sagarahiang masih menggunakan cara-cara kejawen atau menggunakan kalender Jawa. Setelah dibukanya jalur komunikasi dengan wilayah lain, hal-hal semacam itu sedikit demi sedikit mulai ditinggalkan. Sebagian besar masyarakat Desa Sagarahiang sudah memiliki televisi, bahkan akses internet juga sudah ada. Sarana informasi yang sedemikian ini tidak mengherankan kalau perubahan kebudayaan dapat berlangsung. Masyarakat Sagarahiang yang mengandalkan sektor pertanian dari lahan kering sering mengalami kesulitan dalam pengambilan hasil hutan seperti penebangan pohon. Adanya sarana informasi yang memadai keadaan ini dapat diatasi
E.      Keadaan Ekonomi masyarakat Desa Sagarahiang
Keadaan Ekonomi masyarakat desa lebakwangi pada umumnya kalangan menengah kebawah, sebagian besar masyarakat Sagarahiang bekerja sebagai petani sayuran, namun ada pula yang berprofesi sebagai pedagang dan guru.